Tadi gue lagi FBan, trus liat-liat status update temen-temen2 gue.
Dan salah seorang temen gue, sebut saja A, nulis gini :
G hbs pikir, knp y jd byk kasus perempuan2 yg tega ngerebut pasangan perempuan laen, g artis, g org biasa,, dmn peRasaan mrk? Yg seharusny perempuan penuh kelembutan berubah jadi agresif mmbabi buta g karu2an,, coba klo mrk mcoba brtukar posi2 & coba merasakan, ap msi mw y jd perebut?
Dan telunjuk gue langsung menuju mousepad, gerakin pointer menuju option “like”
Gue jadi inget ceritanya temen gue, yang pacaran sama seorang cowok, dan si cowok ini banyak banget yang suka. Entah itu sekedar ngefans, suka sekedar suka, sampe suka dan mulai melakukan tindakan invasif. Dan si cewek, temen gue itu, mungkin karna sudah sangat terbiasa dengan hal ini, cuma senyum-senyum aja.
Gue yakin dia pasti mangkel juga. Tapi sepertinya kemangkelannya terbayarkan oleh kenyataan bahwa si pacar gak menggubris cewek-cewek aneh itu.
Dan sekedar opini pribadi buat si cewek-cewek aneh: Gue setuju banget sama si A.
Oke lah ya, gue tau kalo jumlah cowok di dunia ini emang jauh lebih sedikit daripada jumlah cewek. Tapi itu jelas gak bisa dijadikan pembenaran buat ganggu hubungan orang lain, entah yang masih pacaran ataupun yang sudah berumah tangga. Bayangkan kamu ada di posisi cewek yang diganggu.
Atau mungkin kamu suka ngeganggu karna belum pernah merasa diganggu? Kalo emang susah buat kamu membayangkan kondisi tersebut, coba bayangkan saja ini: Kalian semua pasti punya Ayah. Gimana kalo ada cewek ganjen yang suka sama ayah kamu, dan mulai mengganggu rumah tangga Ayah dan Ibumu? Kira-kira apa yang bakal kamu rasakan?
Setau gue, perempuan itu punya perasaan yang halus, seboyish apapun dirinya.
Perempuan. Per-empu-an. Yang diempukan. Yang dihormati. Yang disegani. Yang diataskan. Yang dimuliakan. Yang dijaga kesuciannya. Yang ditinggikan derajatnya. Yang tak ‘kan pernah disia-siakan. Yang tak ‘kan pernah ditinggalkan. Yang tak ‘kan pernah dilupakan. Dia akan tetap anggun dalam harga dirinya, agung dalam pesonanya yang terjaga, kecuali sang empu merendahi dirinya sendiri, meski dia tidak tahu.
(dikutip dari sini)
Trus, kenapa ya masih ada juga perempuan yang merendahkan dirinya sendiri dengan merusak hubungan orang lain?
Sampai tulisan ini dipostkan, gue masih gak habis pikir.
*dan gue pribadi sangat bersyukur padaNya, karna si Ndut sayang banget sama gue. Cuma soal waktu ya, Ndut*